Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

You Changed Me part 3

       "Apa kau bisa bangun? Kau harus makan untuk mengisi kembali energimu". Aku melihat sosok lelaki itu perlahan mendekatiku. Semakin dekat dan semakin jelas, aku bisa menatapnya sekarang, berdiri tepat di samping tempat tidurku. Dia mendekatkan wajahnya ke arah ku, menatapku dengan tatapan teduh. Ahh~ aku terpana dengan tatapannya itu. Tak hanya tatapannya, wajahnya sangat tampan jika dilihat dari dekat dan darinya terpancar aura yang besar, dia memiliki karisma yang kuat. Kenapa denganku? jantungku berdetak kencang, tiba-tiba aku menjadi malu tetapi tidak mau melepaskan pandanganku darinya. Tak apa karena ini dalam mimpi. Setidaknya aku butuh mimpi indah untuk menghilangkan ketakutanku. "Apa kau demam? kenapa wajahmu merah?", dia bertanya sambil melayangkan tangannya ke dahiku mencocokkan suhu tubuhnya dengan tubuhku. Dia memiliki tangan yang besar dan hangat. Eh tunggu, kenapa aku bisa merasakan hangat? Apa ini bukan mimpi? 
       Aku bingung, aku menggenggam tangannya dan melepasnya dari dahiku. Aku meremas-remas tangannya. membuktikan bahwa tangannya memang hangat. "Kenapa ini? Tanganmu hangat. Aku bisa merasakannya. Apa dalam mimpi indera kita tetap bekerja? Atau ini hanya perasaanku saja?" Aku bertanya-tanya dan melihat ke arahnya. Melihatku bingung dia tertawa. Dia tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan lainnya. Aku semakin bingung, tetapi aku senang bisa melihatnya tertawa lepas. Aku senang melihat ekspresinya yang berbeda-beda. "Hey kau sangat lucu. Apa kau pikir ini mimpi? Apa kau tak ingat kejadian semalam?", dia bertanya padaku sambil terus tertawa. Aku berpikir sebentar, mencoba berlogika dengan semua yang terjadi. Hah, jadi ini bukan mimpi? Aku melihat ke arahnya dan baru sadar aku masih menggenggam tangannya. Aku langsung melepaskan genggamanku dan berbaring menutupi kepalaku dengan selimut. Aku sangat malu. Apa yang barusan aku lakukan? Tapi Kenapa aku malah bersembunyi dalam selimut. Pasti dia menganggapku orang yang aneh. Sekarang aku benar-benar berharap semua ini hanya mimpi.
        "Hai, aku Louise. Biasanya orang-orang memanggilku L. Kau Ryanti, kan? Maaf aku membuka dompetmu untuk mencari identitasmu", Louise menarik selimut yang menutupi seluruh badanku.
"Aku tahu sekarang kau pasti malu, tapi kau harus bangun dan makan dulu. Aku sudah membawakan makanan."
"Aku tidak lapar", "ggrrrrrkkkkk" Ah, lagi-lagi ucapanku tidak sesuai dengan perutku. Sungguh memalukan, kenapa semua ini harus terjadi terlebih di depan orang ini. Aku benar-benar tak ingin keluar dari selimut ini.
"Sepertinya perutmu berkata lain", dia membuka selimutku dan memaksa ku duduk. Tak ada pilihan lain, aku memandangnya, "Iya aku memang lapar, jadi awas kalo makanannya tidak enak!". Aku mengatakannya dengan ketus tapi dia malah tersenyum melihat ku.
"Kau pasti akan suka dengan makanannya. Kau mau makan sendiri atau perlu aku suap?" Wah, ucapannya manis tapi aku tahu dia sedang mengejek ku.
"Terima kasih tapi aku bisa makan sendiri", aku mengeluarkan senyum palsu ku. Dia tahu senyumku palsu, tetapi dia tetap tersenyum. Sepertinya dia tahu kalau aku tertarik padanya dan sikap ketus yang ku tunjukan padanya hanyalah kebohongan. Dia hanya berpura-pura tidak tahu. Apa dia sedang mempermainkanku? 
    Aku membuka tutup makanan yang dibawanya. Sop. Ini masih hangat. Baunya sangat menggugah selera. Hanya dengan sekali suap aku bisa merasakan kehangatannya mengalir ke dalam kerongkonganku dan mengisi lambungku yang kosong. Sopnya sangat enak. Darimana dia mendapatkan sop seenak ini di rumah sakit? Dalam sekejap aku langsung menghabiskan sopnya tanpa meninggalkan sisa.
"Ini minumnya", dia menyodorkan segelas air padaku dan langsung membersihkan tempat makanku. "Apa kau mau minum lagi?", dia bertanya sambil meraih gelas dari tanganku. "Ah, tidak terima kasih" "Kalau begitu istirahatlah lagi, perutmu sudah terisi, badanmu pasti hangat sekarang, kau bisa istirahat sebentar dan besok kau sudah bisa pulang", wah dia sangat gentle, begitulah anganku. Dia berbicara sambil membaringkanku dan menyelimutiku.
"Apa aku tak perlu minum obat atau apa?"
Aku baru sadar, aku di rumah sakit tapi tak ada obat dan infus yang masuk ke dalam tubuhku.
"Kau tidak sakit kenapa harus minum obat?"
"Ah, aku tidak sakit, seharusnya kau mengantarku pulang ke rumah tak perlu di rumah sakit". Dia duduk di kursi tepat di samping ku dan setengah berbisik, "Aku tak tahu rumahmu, aku juga tak mungkin membawamu ke hotel atau rumahku, kan?" Dia kembali tersenyum.
Ah, aku melihat kepribadian lainnya, sepertinya dia seorang yang ramah, entah sudah berapa kali aku melihatnya tersenyum.
"Sekarang aku merasa sudah sehat kembali, lebih baik aku pulang ke rumah saja", aku baru akan bangun tetapi dia menghentikanku. "Eh, tunggu. Bukannya kamu di sini tinggal sendiri? Akan lebih baik tetap di sini bersamaku, dibanding di rumah sendirian, tidak ada yang menjagamu. Lagian ini sudah tengah malam, tinggallah di sini sampai besok pagi. Aku akan menjagamu". B-dumb. Mata kita saling bertemu. Waktu berjalan sangat lambat. Aku bisa merasakan bunga-bunga bermekaran dan cahaya hangat yang menyelimuti kami. Namun, ada sesuatu yang rumit di hati ini. Aku langsung memalingkan pandanganku.
"Maaf sudah merepotkanmu. Terimakasih sudah menyelamatku di cafe dan membawaku ke rumah sakit. Terimakasih atas semua bantuanmu, tapi mungkin aku tidak bisa membalasnya". Aku kembali berbaring dan menyelimuti tubuhku tanpa melihat ke arahnya. "Kau juga harus istirahat, pasti kau lelah sudah merawatku dari tadi. Selamat malam".
       Aku mencoba menutup mata tapi tak kunjung tidur. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku masih memikirkan kata-kataku tadi. Apa perkataanku tadi terlalu kasar? apa salah? Apa aku menyinggung perasaaannya? Aku masih merasakan keberadaannya di depanku. Sepertinya dia masih duduk sambil mengamatiku. Memikirkannya membuatku makin gugup. Dan entah kapan, tanpa sadar aku tertidur.
        Aku membuka mataku. Ah, ini di rumah sakit. Aku teringat kejadian semalam saat aku di cafe. Kejadian yang sangat menegangkan, menakutkan dan sepertinya bisa membuatku trauma. Namun, aku berharap aku tidak akan trauma dengan hal seperti itu, trauma hanya akan mengganggu aktivitasku. Oh, aku sendiri di sini. Tak ada yang menjagaku "Wsssstt.." Hah, aku kaget tanpa sebab mendengar suara kloset. Ada orang di kamar mandi. Lelaki itu, aku ingat sekarang. Dia menjagaku dan membawakan makanan. Apa dia masih di sini? Jam berapa ini? Aku melihat ke arah jam dinding yang menujukkan pukul 08.00 WIB. Aku mendengar pintu kamar mandi terbuka. "L, apa itu kau?", aku bertanya dengan ragu. "Hah, L siapa? kau sudah bangun Ry?", tiba-tiba windy keluar dari kamar mandi dan berlari ke arahku. Windy adalah sahabatku, kita bertemu di hari pertama pendaftaran ulang universitas dan menjadi akrab sampai saat ini. 
       "Hey, kok kamu di sini, win?" Aku bertanya dengan bingung. "Hya, kenapa? nggak senang aku datang ke sini? Hey, apa kau berharap ada orang lain yang menjagamu?" Windy mengernyitkan dahinya sambil tersenyum licik ke arahku. "Iizzzz...", aku menyenggol bahunya.
"Padahal aku panik banget ditelpon rumah sakit kalau kau dirawat di sini. Sampai di sini aku malah diperlakukan seperti ini? Hmm..? hmm...?"
"Ah,,, bukan begitu, kan kamu sekarang harusnya masih di Bali?", sanggahku.
"oh iya, Surprise..", Windy mengulurkan kedua tangannya ke arahku dan menggoyang-goyangkannya. "Hey, hey, surprise apanya?", aku menepis tangannya agar berhenti.
"Aku, surprisenya aku pulang lebih awal. Kau seneng, kan? pasti sepi nggak ada aku seminggu"
"Ih, pede banget, aku malah senang nggak ada yang gangguin"
"Masa' sih??", kelakuan temanku yang satu itu adalah penggoda. Bukan menggoda orang karena genit atau apa, tapi menggoda dengan lelucon dan kata-katanya yang sering banget membuat orang jengkel dan marah. Tapi leluconya itu lebih sering membuat orang tertawa.
"Eh tapi siapa L?"
"Bukan siapa-siapa"
"Hmmm?? Terus, kenapa tadi kamu manggil aku L? pasti, kamu pikir yang di kamar mandi itu L, kan? Hayoo, siapa L? Aku nggak pernah dengar nama itu. Apa seminggu nggak ada aku, kamu diam-diam pacaran?" Hah, sifat rempong windy yang kepo mulai keluar, aku harus sabar karena pertanyaan lainnya akan keluar dari mulutnya bertubi-tubi.
         "So sweeettttt....", itulah ucapan yang keluar dari mulut windy setelah aku ceritakan semuanya. "Terus sekarang dia kemana? Waktu aku datang tidak ada orang di sini", jawabnya sambil melihat sekeliling.
"Apa iya? Entahlah, mungkin dia sudah pulang". Aku bisa memaklumi dia pulang tapi entah mengapa aku agak sedikit kecewa karena dia tidak pamitan.
"Permisi..", seorang petugas rumah sakit memasuki kamarku. "Maaf, apa makanannya sudah habis, saya akan mengambil piringnya", tanya petugas itu.
"Oh, iya maaf, temanku baru bangun dan belum sempat makan. Apa bisa diambil nanti?"
"Iya, tidak masalah. Kalau begitu saya permisi" "Maaf bu", panggilku menghentikan langkah petugas itu.
"Apa dari kemarin malam ibu juga yang mengantarkan makanan ke kamarku?", tanyaku penasaran. "Tidak mba, saya masuk shift pagi. Ada apa?"
"Oh, tidak apa-apa bu. Apa tadi pagi waktu ibu mengantar makanan ibu melihat laki-laki yang menjaga di kamar ini?", tanyaku lagi.
"Tidak mba, saya cuma bertemu dengan mbanya ini", petugas itu melihat ke arah Windy.
"Iya tadi pagi aku yang menerima makanannya", jawab Windy. Aku masih bingung,
"Yasudah bu, terimakasih"
"Sama-sama mba, kalau begitu saya permisi."
"Iya, Bu", jawabku dan Windy kompak.
"Ry, jangan-jangan semalam itu hanya mimpi"
"Ah, aku juga nggak tahu. Itu memang seperti mimpi, tapi sangat nyata. Duh, gimana ya jelasinnya". Aku bingung, apa itu benar-benar mimpi? Kalau itu mimpi, berarti aku bermimpi di dalam mimpi? "Apa ini juga masih mimpi? Ahhrrggggggt", Windy tiba-tiba saja mencubit tanganku.
"Sakit? Berarti ini bukan mimpi, say. Apa waktu kau ketemu sama dia, kau juga mencubit dirimu?" "Tidak"
"Yah, terus gimana kau tahu itu bukan mimpi. Itu pasti mimpi-mimpi. Sudah curiga aku, soalnya ceritamu itu terlalu so sweet"
"Aku tidak merasa sakit, tapi aku bisa merasakan hangat. Ah iya, tangannya hangat", aku mencoba membela diri.
"Kalau itu kan bisa aja bawaan dari mimpimu. Udah ini sambil makan dulu". Windy menyiapkan makananku di atas meja dan mulai menyuapiku. "Habis makan, siap-siap pulang. Nanti kita bisa sekalian nanya ke suster siapa yang bawa kamu ke sini pas bayar administrasi." Aku cuma mengangguk setuju.
"Yang jadi waliku pemilik cafe tempat kejadian itu, sus?", tanyaku masih tidak percaya. 
"Iya mba, katanya dia pemilik cafe itu, makanya dia yang bertanggungjawab"
"Apa ada orang lain yang ke sini juga selain pemiliknya?", tanyaku lagi.
"Kalau itu saya tidak tahu mba, kemarin malam di UGD ramai banget, ada kecelakaan beruntun, jadi saya tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang ada mba"
"Kalau di ruangan, apa ada yang menjagaku?" "Setahu saya tidak ada mba, soalnya kemarin setelah mengurus semua administrasi, bapaknya langsung pulang. Dia cuma memintaku untuk menelpon wali anda dan sekali-kali menengok ke kamar anda"
"Oh, iya Sus. Kalau begitu terima kasih. Maaf sudah mengganggu"
"Iya, sama-sama mba", suster itu tersenyum dan aku langsung menginggalkan meja administrasi.
      "Ry, kayanya kamu beneran mimpi deh. Bisa aja sih, yang jagain kamu pemilik cafe itu, tapi namanya bukan L, eh siapa itu? Louise?"
"Win, ada ya mimpi yang nyata banget. Terus kenapa aku mimpiin dia ya? Apa karena dia yang nolong aku?"
"Bisa jadi, atau mungkin karena kamu suka sama dia" Aku langsung menghentikan langkah ku. Suka? Aku bahkan baru beberapa kali melihatnya. Aku bahkan belum tahu nama aslinya. Kenapa aku bisa suka sama dia? Bahkan kebaikannya semalam ternyata hanyalah mimpi. Aku tak tahu apa-apa tentangnya, yang aku tahu hanyalah nama mimpinya, L.
"Biasanya orang-orang memanggilku, L", kata-katanya dalam mimpi tiba-tiba saja terlintas dipikiranku.
"Eh, kamu ngapain bengong di situ. Ayo pulang", Windy menarikku dan aku mengikutinya tanpa berkomentar apa pun. Saat ini pikiranku sedang melayang jauh. Aku bermimpi. Ini semua benar-benar hanya mimpi. Kenapa dengan semua mimpi ini. Belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini sebelumnya. Aku bahkan tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Apa aku akan kembali ke mimpi itu? Mimpi dimana ada dia, mimpi dimana kami bersama.

***Bersambung....

Salam, L-Ry


Sabtu, 12 Maret 2016

You Changed Me part 2

Loli Cafe
      Sekarang aku sedang duduk di cafe yang sama seperti 2 hari yang lalu. Namun kali ini tidak sedang menunggu seseorang. Aku hanya ingin melepas lelah setelah seharian kuliah. Aku suka cafe ini, aku suka dengan suasana yang ditawarkan. Aku tidak tahu kenapa namanya loli cafe. Apa karena cafe ini kecil? Setahuku istilah loli dipakai di jepang untuk seseorang yang berbadan kecil. Tapi sepertinya pemilik cafe ini bukan orang jepang. Entahlah, kenapa aku juga harus repot-repot memikirkan arti nama cafe ini. Abaikan.
         Cafe ini sepi bukan karena tidak ada pengunjung. Ada beberapa pengunjung di dalam cafe ini. Namun, sepertinya pengunjung cafe ini adalah mereka-mereka yang butuh ketenangan. Semua pengunjung sepertinya datang sendiri tanpa pasangan, hanya ada satu pasangan dari 5 pengunjung yang datang. Aku bisa melihat semua pengunjung karena cafe ini memang kecil. Sudah 30 menit aku duduk di sini, menghabiskan waktu dengan melukis bunga yang ada di beranda depan cafe. Sangat menyenangkan duduk berlama-lama di sini, suasana yang sepi ditemani dengan iringan suara instrumen piano yang menenangkan pikiran. Konsep cafe yang mungil, sederhana, dipenuhi aksesoris dan pernak-pernik yang unik. Ada beberapa kaktus dan succulent yang diletakkan di atas meja dan pojok-pojok ruangan, serta bunga-bunga yang memenuhi taman menghadirkan suasana sejuk dan nyaman.
         Lukisanku selesai, segerombolan aster merah yang basah terkena hujan. Aku meletakkan pensil dan sketchbook-ku kemudian meraih secangkir hot coffe latte di depanku. Sambil meminumnya aku melihat sekeliling. Pengunjung lain juga sibuk dengan urusannya masing-masing. Di pojok ruangan terlihat sepasang kekasih yang sedang mengambil foto selfie. Di belakangnya ada seorang pelajar SMA yang sibuk dengan laptopnya. Tak jauh dari tempatku duduk ada seorang wanita paruh baya yang juga sibuk dengan laptopnya. Aku bisa melihat web yang sedang dibuka wanita itu, itu adalah web online shop. Sepertinya dia sedang bingung memilih barang mana yang akan dibelinya. Selain itu terdapat juga seorang lelaki tua yang sedang membaca surat kabar sambil menikmati secangkir kopi hitam, mungkin ekspresso.
      Jam tanganku baru menunjukkan pukul 07.15, aku masih bisa bersantai di sini lebih lama, pikirku. Malam ini juga sedang hujan, aku melihat air hujan yang samar-samar berjatuhan. Aku jadi teringat sosok lelaki kemarin. Aku ingin melihatnya lagi, itulah salah satu alasan sekarang aku berada di tempat ini. Aku kembali meraih pensil dan skecthbook-ku kemudian melihat sekeliling, mencari apa yang bisa aku lukis. Saat itu seorang gadis SMA memasuki cafe masih dengan seragam sekolahnya. Saat melihatnya perasaanku mengatakan ada yang aneh dengan gadis ini. Entah darimana rasa penasaranku muncul. Aku mulai memperhatikan gadis yang memilih duduk di sampingku, hanya berjarak satu kursi dari tempatku. Saat pelayan datang, gadis ini memesan segelas ice vanilla. Gadis ini terlihat gemetaran, aku pikir karena dia menggigil kedinginan tetapi dia tidak memesan sesuatu yang hangat, malah memesan minuman dingin. Seragamnya sangat basah, aku bisa melihat air yang menetes dari bawah seragamnya membasahi lantai tempatnya duduk, namun kenapa jaket yang dikenakan tidak terlalu basah? pikiranku mulai berimajinasi.
Apa dia baru memakai jaketnya setelah kehujanan?
Ah, dan dia juga tidak membawa tas. Aneh, aku mulai merasakan sesuatu yang ganjil di sini.
    Beberapa menit kemudian pelayan membawakan pesanannya. Aku masih mengamatinya. Wajahnya pucat dan terlihat cemas. Jari-jari tangannya bergetar memegang gelas namun gadis itu malah mengeletuk es batu dari minumannya. Kenapa dengan gadis ini? Rasa penasaranku mulai memuncak.
"Hey. Hey dek", aku mencoba berbicara dengan gadis itu tetapi dia tidak menoleh. Aku mendekat dan memanggilnya lagi sambil menyentuh bahunya. Gadis itu terkejut, dia melihat ke arahku gugup. "Hey, kau tidak papa? Kamu kelihatan kedinginan" "Jangan mendekat", gadis itu sedikit berteriak. Aku bingung. Aku melihat sekeliling dan pengunjung lain sedang melihat ke arah kami. "Ah, tidak papa aku cuma bertanya, nggak ada niat lain". Ah~ Bodohnya aku, kenapa ikut campur masalah orang lain. Sekarang aku yang jadi malu sendiri. Aku akan kembali ke kursiku namun tertahan karena pandangan ku tertuju pada bercak merah pada seragam gadis itu yang ditutupi dengan jaket. "Hey, bajumu, darah. Apa kau terluka?", spontan aku bertanya dan kembali mendekat. "Sudah aku bilang jangan mendekat", gadis itu berteriak lebih kencang dan sekarang sambil menyodorkan sebuah pisau. Kali ini aku yang terkejut, aku tak tahu harus berbuat apa dan hanya berdiri mematung. Wanita yang duduk tak jauh dari tempatku berteriak sambil berlari menjauh dari kami. Aku melihat pengunjung cafe juga terkejut namun belum berani mengambil tindakan. Jarak ku hanya satu meter dari gadis yang menodongkan pisau ke arahku. Aku bisa merasakan badanku mulai dingin dan kakiku bergetar. "Apa kau juga mau mati?", ucap gadis itu membuyarkan pikiranku. Hah, apa? Apa dia serius mengancamku? Aku sangat takut, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, bahkan aku tak tahu apa yang terjadi di sini. Mengingat semenit lalu aku masih memegang pensil dan sketchbook-ku. Aku mencoba untuk tetap tenang, tetap fokus, itulah yang harus aku lakukan dalam situasi seperti ini, pikirku.
       Tiba-tiba seseorang datang entah dari mana, dengan cepat dia menarik tangan gadis itu dan menjatuhkan pisaunya. Gadis itu memberontak namun tak bisa mengelak. "Hey ambil tali atau kain dan telpon polisi", lelaki itu berteriak ke arah pelayan toko. Dalam sekejap dia berhasil meringkus gadis yang menodongkan pisau ke arahku. Aku masih berdiri mematung, melihat tangan dan kaki gadis itu diikat dengan serbet agar tak bisa kabur. Aku melihat bibir gadis itu terus mengumpat tapi aku tak mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku terlalu takut, masih terkejut. Sedetik saja, mungkin aku bisa langsung mati di tempat. Seorang pelayan mendekat dan menanyakan kondisi ku, "Maaf mba, kau tidak apa-apa?". Saat itulah semua energiku melayang seketika, aku langsung terduduk di lantai masih melihat ke arah gadis yang menyodorkan pisau ke arahku tadi. Aku masih tidak percaya apa yang terjadi. Kejadiannya sangat cepat namun juga terasa lama sehingga menguras semua tenagaku. Aku melihat lelaki yang berada di samping gadis itu. Eh, Dia?! Lagi-lagi aku terkejut. Lelaki itu adalah lelaki yang ku lihat dua hari yang lalu. Aku masih tidak percaya. Apa ini yang namanya takdir? Terlintas banyak pertanyaan di benakku, namun sepertinya pikiran dan badanku bekerja berlawanan. Perlahan semuanya menjadi kabur, kepalaku terasa berat, dan semuanya gelap. Apa ini mimpi? Aku sedang bermimpi?
           Aku membuka mata ku dan melihat langit-langit, mengingat apa yang baru ku alami ternyata semua hanya mimpi. Aku menghembuskan nafas lega. Mimpi yang sangat nyata, semua badan ku terasa pegal dan kepala ku masih pusing. "Kau sudah bangun?", Aku kaget tiba-tiba mendengar suara lelaki di kamarku. Aku melihat sekeliling. Apa kamarku berubah? ini bukan kamarku. Aku baru sadar aku tidak berada di kamarku. Hah, aku ada dimana?
"Apa kau bisa bangun? Kata dokter kau hanya shock, untungnya tidak ada yang terluka", suara lelaki itu terdengar lagi namun aku belum bisa menangkap keberadaannya. "Apa kau bisa bangun? Kau harus makan untuk mengisi energi", suaranya semakin terdengar jelas. Aku melihatnya, dia berbicara sambil mendekat ke arahku dengan membawa makanan di atas nampan. Hah?!! Dia lagi?! Lelaki kemarin! Apa aku masih bermimpi?

***Bersambung....

Salam L-Ry

Rabu, 02 Maret 2016

You Changed Me part 1

        Aku Ry, aku bukanlah tipikal orang yang suka memperhatikan keadaan sekitar. Banyak orang yang menganggap ku tidak peka dan tidak respek, tapi aku tidak pernah mengambil pusing ucapan orang lain karena aku tidak peduli. Semua yang ku kerjakan, sesuai dengan rencana yang telah ku buat. Plan A, plan B, plan C, semuanya telah aku pikirkan. Namun kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan.

###

        Dua hari yang lalu.
Waktu itu aku sedang menunggu temanku, Hilda, di sebuah cafe kecil yang tak jauh dari kontrakan ku. Sudah 10 menit aku menunggu dan dia belum juga datang. Di atas meja telah tersaji secangkir float mocca dan cheese cake yang belum tersentuh. Aku bosan menunggu. Sial, handphone ku sudah menunjukkan baterai limit dan aku juga sedang tidak membawa buku saku atau sketch book yang biasanya tak pernah pernah aku tinggalkan. Tak ada yang bisa ku kerjakan untuk mengisi kebosanan ini. Biasanya untuk mengisi waktu luang seperti ini, aku akan membuka akun medsos, menuliskan planning dalam buku saku, atau sekedar menggambar sesuatu dalam sketch book. Semua itu hal-hal sederhana namun cukup menghabiskan banyak waktu.
        Aku mencicipi cheese cake sedikit demi sedikit sambil melihat ke arah bunga-bunga yang basah terkena hujan di luar cafe. Saat itu sedang hujan deras, ketika aku pertama kali melihatnya. Dia, aku bahkan tak tahu siapa namanya. Namun, entah mengapa dia dapat mencuri perhatian ku-seseorang yang tak suka memperhatikan orang. Biasanya ketika melihat orang yang tidak dikenal dan tak sedang berkepentingan, aku akan langsung memalingkan muka ke arah lain. Bukan karena sombong, hanya saja, menurutku tidak sopan memandangi seseorang jika tidak ada hal yang berkepentingan. Lelaki itu turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam cafe. Walaupun hanya sebentar terkena hujan, cukup membuat rambut dan kemejanya basah. Lelaki itu berjalan sambil mengibas-ngibaskan air yang berada di rambut dan pundaknya dengan satu tangan, lalu duduk tepat di meja depanku. Awalnya aku memperhatikan dia hanya karena iseng untuk mengisi kebosanan. Sebenarnya tak ada yang spesial dari lelaki itu, lelaki dengan postur tubuh ideal dan wajah good-looking. Bagi beberapa orang hal itulah yang pertama menarik perhatian, namun karena aku sering bertemu dan berhadapan dengan orang-orang seperti dia, penampilan fisik bukanlah sesuatu yang bisa membuatku excited. Hanya saja ada sesuatu yang menarik dari dirinya.
    Lelaki itu memesan secangkir hot milk coffe, ketika pelayan yang menerima pesanannya meninggalkan meja, lelaki itu langsung mengeluarkan sebuah buku dan pensil dari dalam tasnya. Ternyata itu adalah sebuah sketch book. "Dia mempunyai hobby yang sama denganku", itulah yang terlintas dalam pikiranku. Tanpa berfikir panjang, lelaki itu langsung memainkan pensilnya di atas buku itu. Aku tidak tahu apa yang digambar olehnya, tapi aku suka ekspresi wajahnya saat sedang menggambar. Dia membuat wajah yang serius, seakan-akan pikirannya hanya tertuju pada apa yang sedang digambarnya. Aku memperhatikan gerakan tangannya, jari-jarinya yang panjang sangat cepat memainkan pensil. Sangat Serius, dia bahkan tidak menoleh saat pelayan mengantarkan pesanannya, namun tetap mengucapkan terimakasih. Tidak sampai 10 menit, sepertinya dia sudah menyelesaikan sketsanya. Dia meletakkan pensilnya dan mengangkat bukunya sedikit ke atas. Lagi, aku kembali terpana dengan ekspresi yang dikeluarkan. Lelaki itu tersenyum melihat gambar yang dibuatnya. Wajah seriusnya dalam sekejab menghilang dan tanpa sadar aku ikut tersenyum.
     Dia melihat kearahku, lelaki itu melihatku yang sedang tersenyum memperhatikannya. Selama beberapa detik mata kita bertemu. Aku bisa merasakan waktu berjalan lambat seperti yang terjadi dalam sinetron-sinetron yang sering mama tonton. Aku langsung menarik senyumku dan menundukkan wajah ke bawah. Aku kaget kenapa tiba-tiba dia harus melihat kearahku? Jantungku berdegup sangat kencang, membuatku panik dan salah tingkah. Aku meraih cangkir mocca-ku dan meminumnya dengan cepat. Belum sempat tertelan, aku menyemprotnya keluar karena kaget mendengar sapaan Hilda yang kedatangannya tidak aku sadari. Aku langsung membersihkan tumpahan mocca yang berceceran di meja sambil melirik ke arah lelaki itu. Entah mengapa jantung ini berdegup lebih kencang ketika melihatnya tertawa kecil. Dia tertawa, sepertinya dia tertawa melihat tingkahku ini.
       Hilda juga menertawai tingkahku dengan bingung. "Hey kamu nggak papa kan, Ry?"  "Hah? Nggak papa kok, kaget aja aku. Kamu tiba-tiba muncul sambil ngagetin sih" Aku berbicara tanpa melihat ke arah Hilda sambil terus mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih dan sesekali melirik ke arah lelaki itu. Hilda adalah sahabatku ketika SMP. Kita berpisah ketika kenaikan kelas 3 dikarenakan orangtuanya pindah tugas di luar kota. Beberapa hari yang lalu Hilda kembali untuk mengunjungi neneknya yang sedang sakit. Oleh karena itu hari ini kita bertemu untuk melepas kangen dan bercerita tentang banyak hal yang sudah kita lewati hingga sekarang. Awalnya aku masih memperhatikan lelaki itu dengan sesekali melirik ke arahnya. Sepertinya, lelaki itu kembali serius menggerakkan pensil dan menekuni apa yang dikerjakannya. Aku pun terbawa suasana nostalgia bersama Hilda dan akhirnya melupakan keberadaan lelaki yang duduk di depanku.
       Tiga jam aku menghabiskan waktu bercerita bersama Hilda. Ketika akan beranjak pulang, baru aku kembali teringat dengan sosok lelaki yang duduk di depanku. Aku melihat ke arah meja depanku, meja itu sudah berganti dengan pelanggan lain. Ekspresi lelaki itu tiba-tiba terlintas dipikiranku. Ekspresinya ketika serius dan ketika tersenyum, menurutku itu sangat lucu. Aku seperti melihat dua kepribadian dari dalam dirinya. Aku tidak pernah mengira ini akan menjadi awal dari semua kejadian aneh dalam hidupku. Kejadian hari ini adalah permulaan dari perubahan sifatku. Entah kenapa tanpa aku sadari, aku berubah. Apakah perubahan ini baik untuk ku? Aku selalu memikirkannya. Namun, sekeras apa pun aku mengontrolnya, aku tak bisa menghentikan perubahan ini.
          Semenjak kejadian ini, sedikit demi sedikit, aku berubah.....

***Bersambung...

Salam L-Ry