Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 April 2017

Resensi Film La La Land (2017)



Hi Dreamers...
         Siapa belum menonton film La La Land? Mungkin sebagian besar sudah nonton ya.. Buat yang belum menonton dan masih ragu film nya bagus atau nggak, ini saku kasih pendapatkanku tentang film La La Land ini.
       Film La La Land ini bergenre musikal romantis gitu, jadi pasti buat kalian para jomblo pada baper deh. Buat yang suka drama musikal, film ini rekomended lagunya bagus-bagus dan latar tempatnya juga gaya-gaya klasik gitu. Aku jadi kangen nonton teater lagi. Sedikir info saja, film ini ditulis oleh Damien Chazelle yang kemudian diproduksi oleh Summit Entertainment. Film musikal ini pertama kali dirilis di acara Festival Film Venice pada tanggal 31 Agustus 2016, yang kemudian ditayangkan di Amerika pada tanggal 9 Desember 2016. 
      Oke langsung ceritanya saja ya. Film ini bermula dari adegan kemacetan sebuah Tol di Los Angelas yang kemudian diisi oleh nyanyian Another Day of Sun. Kejenuhan menunggu kemacetan berganti dengan kemeriahan dan keceriaan bernyanyi bersama. Dalam kemacetan itu lah Mia (diperankan oleh Emma Stone) dan Sebastian (diperankan Oleh Ryan Gosling) pertama kali bertemu. 
         Mia adalah seorang pengawai di salah satu coffe shop yang berambisi menjadi seeorang artis, sedangkan Sebastian adalah seorang pianis jazz yang berbakat, namun tidak banyak yang mengakui bakatnya sehingga dia hanya menjadi pianis untuk acara-acara kecil. Sama hal dengan Sebastian yang kurang beruntung, Mia juga selalu gagal dalam audisi aktingnya. Untuk menghibur Mia yang gagal teman-temannya mengajak Mia menghadiri sebuah pesta untuk mencari relasi. Sebuah ajakan yang dituangkan dalam lagu Someone in The Crowd yang dinyanyikan Mia dan 3 sahabatnya. Sepulang dari pesta, Mia mendengar suara piano yang dimainkan Sebastian di Sebuah Cafe. Mia terkesima dengan penampilan Sebastian di cafe tersebut, namun tidak dengan pemilik Cafe. Karena Sebastian tidak memainkan piano sesuai dengan list lagu yang diberikan, pemilik cafe memecat Sebastian dari pekerjaannya. 
          Ternyata dunia memang sempit untuk mereka berdua. Mereka kembali bertemu di acara party dimana Sebastian menjadi pianis Band yang diundang. Dari situlah mereka mulai berkenalan. Selesai pesta Sebastian mengantarkan Mia mencari mobilnya untuk menghindari seseorang yang akan mendekati Mia. Saat itulah mereka mulai menyanyikan lagu A Lovely Night dan mulai berdansa. Saat itu mereka  baru berkenalan dan benih-benih keromantisan sudah mulai terlihat. Namun, mereka masih malu mengakui perasaan masing-masing. Hingga, Sebastian menemui Mia di Coffe Shop tempat Mia berkerja. Mereka pulang sambil bersama dan bercerita banyak hal, tentang impian dan kegagalan yang dialami. Dari situ ketertarikan mereka semakin kuat, dan mereka membuat janji untuk kembali bertemu di bioskop. Namun dihari yang sama, kekasih Mia datang dan meminta Mia untuk bertemu dengan saudaranya yang baru tiba di LA.
            Mia ikut bergabung dengan kekasihnya, namun Mia tidak bisa membohongi hatinya sehingga dia pergi meninggalkan kekasihnya untuk bertemu dengan Sebastian. Dari situlah kisah percintaan Mia dan Sebastian di mulai. Sepasang kekasih baru yang mempunyai impian dan berusaha mendukung satu sama lain untuk meraih impiannya. Penggambaran kisah cinta yang romantis antara Mia dan Sebastian. Namun, ada peluang baru ada halangan baru. Sebastian yang mendapat tawaran bagus menjadi seorang pemain keyboard band terkenal, namun permainan keyboardnya sangat berbeda dengan aliran Jazz yang menjadi impiannya. Mia yang juga sibuk mempersiapkan diri untuk bermain teater monolog dirinya sendiri. Disaat-saat masa berat ini lah mereka menghibur diri dengan sebuah lagu City of Stars
     Sebastian menerima kontrak menjadi pemain keyboard dalam band dan mulai sibuk mempersiapkan diri untuk memulai karirnya. Mia juga sangat sibuk mempersiapkan diri untuk teater pertamanya. Kesibukan masing-masing membuat mereka tidak sempat berkomunikasi satu sama lain. Tour yang dilakukan Sebastian dan Bandnya juga membuat Bastian jarang berada di rumah. Mia yang rindu karena sudah lama tidak bertemu mencoba menelpon Sebastian. Ternyata Sebastian sudah berada di rumah dan memberikan kejutan dengan menyiapkan makan malam. Namun, pertemuaan mereka berubah menjadi keributan. Perselisihan pendapat mengenai karir, impian, dan kelangsungan hubungan mereka mulai diungkit. Hal ini membuat Mia sedih dan meninggalkan rumah Sebastian. 
        Puncak perselihan terjadi ketika di hari teater Mia, tidak banyak penonton yang datang dan penampilan Mia dijadikan hujatan. Terlebih Sebastian tidak berada di sana untuk mendukung Mia karena bersamaan dengan jadwal pemotretan Bandnya. Mia yang merasa gagal memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Mia sudah tidak mau mendengar penjelasan Sebastian yang datang terlambat. Dan saat itulah hubungan mereka berakhir. Sebastian membatalkan kontraknya dengan Bandnya dan kembali ke biasaannya dahulu. Saat dia mengetahui ada peluang casting untuk Mia, dia mencoba menyakinkan Mia untuk mengikuti casting tersebut. Mia kemudian mau kembali mengikuti casting dengan menceritakan kisah The Fools Who Dream yang dia tuangkan dalam bentuk musikal. 
            Singkat cerita, Mia berhasil lolos casting dan berangkat ke Paris untuk casting. Lima tahun berlalu, Mia menggapai impiannya menjadi seorang artis terkenal yang sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Mia yang kembali ke LA, sedang makan malam dengan suaminya dan mendengar musik Jazz dari sebuah cafe. Dia dan suaminya memasuki cafe tersebut dan yang dia lihat nama cafe tersebut adalah nama yang pernah dia buat bersama Sebastian. Seperti perkiraannya tempat tersebut adalah milik Sebastian, sebuah tempat yang dipenuhi oleh alunan musik Jazz dan penuh pengunjung. Sebastian juga berhasil meraih impiannya. Mereka sama-sama berhasil meraih impiannya namun tidak dengan cintanya. Saat itulah Sebastian memainkan pianonya dan semua kenangan tentang mereka saat bersama muncul. Harapan jika saja semua yang mereka rencanakan dahulu berjalan sesuai rencana yang diharapkan, pastinya sekarang ini mereka sudah bersama. Namun apa yang terjadi tidaklah seperti yang diharapkan. Saat ini mereka berjalan dijalan yang berbeda dengan menghadap ke arah impian mereka masing-masing. Selesai.
           Akhir cerita ini sedih banget guys, aku berharap akhir cerita film ini seperti versi yang ada dibayangan mereka, happy ending. Tapi kehidupan memang tidak semudah yang dibayangkan, dan terkadang kita harus bisa menerima apa yang terjadi. Hiks.. hiks.. Agak sebel memang akhirnya Mia malah menikah dengan orang lain, tapi over all ceritanya bagus guys. Buat film ini aku kasih rating 8.0. See you guys.... ^^,

Lyric City of Stars by Ryan Gosling ft Emma Stone [La La Land Soundtrack]

Hi Dreamers...
         Lagu favoritku di film La La Land adalah "City of Stars". Lagu ini punya makna mendalam seperti yang pernah aku alami. So, setiap denger lagu ini bawaannya pengin semangat terus. Hehehe,, jadi curhat. Langsung aja dengar lagunya guys.. :))


City of Stars

(Ryan)
City of stars
Are you shining just for me?
City of stars
There's so much that I can't see
Who knows?
I felt it from the first embrace I shared with you

(Emma)
That now our dreams
They've finally come true

City of stars
Just one thing everybody wants
There in the bars
And through the smokescreen of the crowded restaurants
It's love
Yes, all we're looking for is love from someone else

(Ryan)   A rush
(Emma) A glance
(Ryan)   A touch
(Emma) A dance

(All)
A look in somebody's eyes
To light up the skies
To open the world and send it reeling
A voice that says, I'll be here
And you'll be alright

I don't care if I know
Just where I will go
'Cause all that I need is this crazy feeling
A rat-tat-tat on my heart

(Ryan)
Think I want it to stay

City of stars
Are you shining just for me?
City of stars
(Emma)
You never shined so brightly



Sumber video : Youtube


Rabu, 12 April 2017

Resensi Anime Kimi no Na wa [ 君の名は ] / Your Name

Hi Dreamers...
        Hari ini aku akan menulis resensi dari anime Kimi no Na wa (君の名は..) atau kalau diartikan "Namamu adalah...". Mungkin banyak dari kalian yang sudah pernah menonton anime ini, secara anime ini sudah dirilis perdana pada 3 Juli 2016 (di acara konvensi Anime Expo bertempat di Los Angeles, California) dan mulai ditayangkan di jepang pada 8 Agustus 2016. Di Indonesia, anime ini ditayangkan mulai 7 Desember 2016. Anime ini diangkat dari novel "Kimi no Na Wa" yang ditulis oleh Makoto Shinkai yang dirilis pada 18 Juni 2016. Penulis novel ini jugalah yang menyutradarai anime ini, bekerja sama dengan CoMix Wave Film yang membuat animasi dan Toho yang mendistribusikannya.


        Anime ini menceritakan tentang sepasang anak sekolah (Mitsuha & Taki) yang tertukar jiwanya. Sudah banyak manga dan animasi yang aku tonton/baca menceritakan tentang jiwa yang dapat tertukar. Namun, ada yang berbeda dari cerita Kimi no Na wa ini. Mereka tidak bertukar jiwa secara langsung seperti kebanyakan cerita lainnya. Mereka bertukar jiwa tanpa disadari dan waktunya acak/tidak menentu. Tanpa sadar saat mereka terbangun dari tidurnya, jiwa mereka telah tertukar. Mereka tidak saling mengenal dan belum pernah bertemu satu sama lain, mereka juga ditempat yang berbeda dan tanpa disadari mereka juga berasal dari waktu yang berbeda.
      Cerita ini bermula Mitsuha bangun dari tidurnya, tetapi yang berada di dalam Mitsuha bukanlah jiwanya, tetapi jiwa orang lain. Keesokan harinya Mitsuha terbangun tanpa menyadari apa yang kemarin terjadi pada dirinya. Dia tak ingat apa saja yang dia lakukan seharian kemarin. Keluarga dan teman-temannya yang menceritakan keanehannya, namun Mitsuha masih tidak percaya. Sampai akhirnya dia menemukan tulisan di buku catatannya yang bertuliskan "Siapa kamu?".

                      

        Kejadian mulai jelas ketika Mitsuha terbangun dari tidurnya dan mendapati jiwanya berada di tubuh seorang lelaki bernama Taki. Awalnya Mitsuha terkejut, namun dia menganggap yang dia alami adalah mimpi. Mitsuha yang ingin tinggal di Tokyo, merasa sangat senang karena bisa merasakan kehidupan sebagai anak sekolah di Tokyo. Dia menjalani rutinitas seperti yang biasa Taki lakukan. Memang semua yang dia lakukan terasa aneh baginya namun dia cukup menikmati kehidupan baru di Kota seperti yang diidamkannnya, walau hanya dalam mimpi-pikirnya.



        Sama halnya dengang Mitsuha, jiwa Taki yang juga masuk kedalam tubuh Mitsuha juga menjalani rutinitas yang sama dengan segala keanehan. Hingga mereka akhirnya tersadar bahwa yang mereka alami bukanlah mimpi. Jiwa mereka tertukar pada waktu yang tak tentu. Merekapun membuat kesepakatan untuk menjalani kehidupan masing-masing dengan normal jika jiwa mereka kembali tertukar. Cerita animasi ini menarik saat adegan ketika jiwa mereka tertukar dengan perubahan sifat mereka yang aneh membuat teman-teman dan keluarganya heran. Pengalaman-pengalaman baru yang mereka rasakan keindahan desa Itomori yang digambarkan dalam animasi ini menjadi daya tarik tersendiri.

                           

           Klimaks mulai dirasa ketika Taki mulai dekat dengan salah satu pegawai di tempat dia kerja part time. Walaupun Mitsuha yang berusaha mendekatkan mereka, tetapi ketika mereka mulai dekat Mitsuha merasakan ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa aneh. Begitu pula yang dirasakan Taki, walaupun dia senang bisa dekat dengan orang yang dia sukai, namun ada sesuatu yang lain dalam dirinya. Taki merasa hal ini bukanlah yang dia inginkan. Saat itu festival berlangsung di desa Itomori, Mitsuha melihat komet yang hanya terlihat 1.200 tahun sekali. Sedangkan Taki mencoba menghubungi Mitsuha namun tak dapat tersambung.


          Semenjak saat itulah, jiwa mereka tak tertukar lagi, Taki juga tak bisa menghubungi Mitsuha. Taki berencana untuk menemui Mitsuha namun dia tak tahu dimana Mitsuha tinggal. Yang Taki ingat hanyalah potongan dari keindahan-keindahan desa tempat Mitsuha tinggal. Berhari-hari Taki berusaha untuk mencari informasi dimana tempat Mitsuha tinggal. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke beberapa tempat untuk bertemu dengan Mitsuha. Ditemani 2 sahbatnya, Taki mulai menjelajahi beberapa daerah. Namun mereka tak kunjung menemukan tempat yang mereka cari. Hingga akhirnya ada sekeluarga yang kenal dengan tempat yang mereka cari dari sketsa yang Taki gambar. Namun disaat mereka berhasil menemukan tempat yang mereka cari, ternyata tempat itu telah menghilang. Desa tersebut menjadi lokasi jatuhnya komet tiga tahun lalu, banyak korban jiwa akibat komet jatuh tersebuh. Taki tak bisa menerima kenyataan itu karena baru sekitar 2-3 minggu yang lalu dia mengenal Mitsuha, tidak mungkin desa ini sudah hilang 3tahun lalu.


     
        Sampai akhirnya Taki mengingat lembah yang pernah dia kunjungi bersama nenek Mitsuha untuk meletakkan persembahan Mitsuha yang merupakan separuh dari jiwanya. Taki mencari persembahan itu dan meminumnya, dia berharap bisa kembali bertemu dengan Mitsuha. Dan keajaiban terjadi, dia kembali bertukar jiwa dengan Mitsuha di masa lalu, 3 tahun lalu sebelum komet menghantam lokasi tersebut. Dengan dibantu sahabat Mitsuha, Taki berusaha menyelamatkan warga desa dari bencana yang akan terjadi. Namun tidak ada yang mau mendengarkan perkataan mereka. Taki pun berusaha mencari Mitsuha yang berada dalam tubuhnya di lembah persembahan. Sesampainya dipuncak lembah Taki dan Mitsuha dapat bertemu. Walau hanya sekilas mereka bisa saling bertemu dan akan menuliskan nama mereka di telapak tangan masing-masing agar tidak saling melupakan. Namun belum sempat menuliskan nama mereka, mereka sudah bertukar di tempat mereka semula.


          Namun berkat kejadian itu, para penduduk desa berhasil diselamatkan. Tetapi saat tersadar Taki tak dapat mengingat nama Mitsuha dia bahkan tak dapat mengingat kejadian yang pernah dialaminya. Begitupun dengan Mitsuha, dia tak dapat mengingat apa yang pernah terjadi. Walaupun mereka tak dapat mengingat apa-apa, namun dalam hati mereka ada sesuatu yang kosong yang tak bisa mereka jelaskan. Mereka selalu merasa sedang mencari sesuatu tapi tak mengetahui apa yang mereka cari. Bertahun-tahun berlalu namun mereka belum bisa menjelaskan sesuatu yang kurang dari dirinya. Hingga pada suatu hari mereka berpapasan, mereka tak bisa mengingat namun jiwa mereka merasakannya. Itulah permulaan baru untuk mereka, di saat mereka kembali bertemu. Mereka saling menanyakan nama.

                 


         Seperti itulah kira-kira cerita dari animasi Kimi no Na Wa. Resensinya kepanjangan ya guys? Maaf kalau kata-kata yang digunakan juga tidak indah. Tapi yakinlah, animasinya lebih bagus dari pada resensi ini. hahaha... Alur ceritanya maju mundur sih, tapi buat kalian yang suka romance yang menyentuh hati, anime ini cocok nih. Apalagi pemandangan desa Itomori juga bagus banget, masih kental juga dengan adatnya. Kalau akau kasih rating buat anime ini, ratingnya 8.0. So, jangan ragu untuk menonton anime ini guys. See ya...


Rabu, 16 Maret 2016

You Changed Me part 3

       "Apa kau bisa bangun? Kau harus makan untuk mengisi kembali energimu". Aku melihat sosok lelaki itu perlahan mendekatiku. Semakin dekat dan semakin jelas, aku bisa menatapnya sekarang, berdiri tepat di samping tempat tidurku. Dia mendekatkan wajahnya ke arah ku, menatapku dengan tatapan teduh. Ahh~ aku terpana dengan tatapannya itu. Tak hanya tatapannya, wajahnya sangat tampan jika dilihat dari dekat dan darinya terpancar aura yang besar, dia memiliki karisma yang kuat. Kenapa denganku? jantungku berdetak kencang, tiba-tiba aku menjadi malu tetapi tidak mau melepaskan pandanganku darinya. Tak apa karena ini dalam mimpi. Setidaknya aku butuh mimpi indah untuk menghilangkan ketakutanku. "Apa kau demam? kenapa wajahmu merah?", dia bertanya sambil melayangkan tangannya ke dahiku mencocokkan suhu tubuhnya dengan tubuhku. Dia memiliki tangan yang besar dan hangat. Eh tunggu, kenapa aku bisa merasakan hangat? Apa ini bukan mimpi? 
       Aku bingung, aku menggenggam tangannya dan melepasnya dari dahiku. Aku meremas-remas tangannya. membuktikan bahwa tangannya memang hangat. "Kenapa ini? Tanganmu hangat. Aku bisa merasakannya. Apa dalam mimpi indera kita tetap bekerja? Atau ini hanya perasaanku saja?" Aku bertanya-tanya dan melihat ke arahnya. Melihatku bingung dia tertawa. Dia tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan lainnya. Aku semakin bingung, tetapi aku senang bisa melihatnya tertawa lepas. Aku senang melihat ekspresinya yang berbeda-beda. "Hey kau sangat lucu. Apa kau pikir ini mimpi? Apa kau tak ingat kejadian semalam?", dia bertanya padaku sambil terus tertawa. Aku berpikir sebentar, mencoba berlogika dengan semua yang terjadi. Hah, jadi ini bukan mimpi? Aku melihat ke arahnya dan baru sadar aku masih menggenggam tangannya. Aku langsung melepaskan genggamanku dan berbaring menutupi kepalaku dengan selimut. Aku sangat malu. Apa yang barusan aku lakukan? Tapi Kenapa aku malah bersembunyi dalam selimut. Pasti dia menganggapku orang yang aneh. Sekarang aku benar-benar berharap semua ini hanya mimpi.
        "Hai, aku Louise. Biasanya orang-orang memanggilku L. Kau Ryanti, kan? Maaf aku membuka dompetmu untuk mencari identitasmu", Louise menarik selimut yang menutupi seluruh badanku.
"Aku tahu sekarang kau pasti malu, tapi kau harus bangun dan makan dulu. Aku sudah membawakan makanan."
"Aku tidak lapar", "ggrrrrrkkkkk" Ah, lagi-lagi ucapanku tidak sesuai dengan perutku. Sungguh memalukan, kenapa semua ini harus terjadi terlebih di depan orang ini. Aku benar-benar tak ingin keluar dari selimut ini.
"Sepertinya perutmu berkata lain", dia membuka selimutku dan memaksa ku duduk. Tak ada pilihan lain, aku memandangnya, "Iya aku memang lapar, jadi awas kalo makanannya tidak enak!". Aku mengatakannya dengan ketus tapi dia malah tersenyum melihat ku.
"Kau pasti akan suka dengan makanannya. Kau mau makan sendiri atau perlu aku suap?" Wah, ucapannya manis tapi aku tahu dia sedang mengejek ku.
"Terima kasih tapi aku bisa makan sendiri", aku mengeluarkan senyum palsu ku. Dia tahu senyumku palsu, tetapi dia tetap tersenyum. Sepertinya dia tahu kalau aku tertarik padanya dan sikap ketus yang ku tunjukan padanya hanyalah kebohongan. Dia hanya berpura-pura tidak tahu. Apa dia sedang mempermainkanku? 
    Aku membuka tutup makanan yang dibawanya. Sop. Ini masih hangat. Baunya sangat menggugah selera. Hanya dengan sekali suap aku bisa merasakan kehangatannya mengalir ke dalam kerongkonganku dan mengisi lambungku yang kosong. Sopnya sangat enak. Darimana dia mendapatkan sop seenak ini di rumah sakit? Dalam sekejap aku langsung menghabiskan sopnya tanpa meninggalkan sisa.
"Ini minumnya", dia menyodorkan segelas air padaku dan langsung membersihkan tempat makanku. "Apa kau mau minum lagi?", dia bertanya sambil meraih gelas dari tanganku. "Ah, tidak terima kasih" "Kalau begitu istirahatlah lagi, perutmu sudah terisi, badanmu pasti hangat sekarang, kau bisa istirahat sebentar dan besok kau sudah bisa pulang", wah dia sangat gentle, begitulah anganku. Dia berbicara sambil membaringkanku dan menyelimutiku.
"Apa aku tak perlu minum obat atau apa?"
Aku baru sadar, aku di rumah sakit tapi tak ada obat dan infus yang masuk ke dalam tubuhku.
"Kau tidak sakit kenapa harus minum obat?"
"Ah, aku tidak sakit, seharusnya kau mengantarku pulang ke rumah tak perlu di rumah sakit". Dia duduk di kursi tepat di samping ku dan setengah berbisik, "Aku tak tahu rumahmu, aku juga tak mungkin membawamu ke hotel atau rumahku, kan?" Dia kembali tersenyum.
Ah, aku melihat kepribadian lainnya, sepertinya dia seorang yang ramah, entah sudah berapa kali aku melihatnya tersenyum.
"Sekarang aku merasa sudah sehat kembali, lebih baik aku pulang ke rumah saja", aku baru akan bangun tetapi dia menghentikanku. "Eh, tunggu. Bukannya kamu di sini tinggal sendiri? Akan lebih baik tetap di sini bersamaku, dibanding di rumah sendirian, tidak ada yang menjagamu. Lagian ini sudah tengah malam, tinggallah di sini sampai besok pagi. Aku akan menjagamu". B-dumb. Mata kita saling bertemu. Waktu berjalan sangat lambat. Aku bisa merasakan bunga-bunga bermekaran dan cahaya hangat yang menyelimuti kami. Namun, ada sesuatu yang rumit di hati ini. Aku langsung memalingkan pandanganku.
"Maaf sudah merepotkanmu. Terimakasih sudah menyelamatku di cafe dan membawaku ke rumah sakit. Terimakasih atas semua bantuanmu, tapi mungkin aku tidak bisa membalasnya". Aku kembali berbaring dan menyelimuti tubuhku tanpa melihat ke arahnya. "Kau juga harus istirahat, pasti kau lelah sudah merawatku dari tadi. Selamat malam".
       Aku mencoba menutup mata tapi tak kunjung tidur. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku masih memikirkan kata-kataku tadi. Apa perkataanku tadi terlalu kasar? apa salah? Apa aku menyinggung perasaaannya? Aku masih merasakan keberadaannya di depanku. Sepertinya dia masih duduk sambil mengamatiku. Memikirkannya membuatku makin gugup. Dan entah kapan, tanpa sadar aku tertidur.
        Aku membuka mataku. Ah, ini di rumah sakit. Aku teringat kejadian semalam saat aku di cafe. Kejadian yang sangat menegangkan, menakutkan dan sepertinya bisa membuatku trauma. Namun, aku berharap aku tidak akan trauma dengan hal seperti itu, trauma hanya akan mengganggu aktivitasku. Oh, aku sendiri di sini. Tak ada yang menjagaku "Wsssstt.." Hah, aku kaget tanpa sebab mendengar suara kloset. Ada orang di kamar mandi. Lelaki itu, aku ingat sekarang. Dia menjagaku dan membawakan makanan. Apa dia masih di sini? Jam berapa ini? Aku melihat ke arah jam dinding yang menujukkan pukul 08.00 WIB. Aku mendengar pintu kamar mandi terbuka. "L, apa itu kau?", aku bertanya dengan ragu. "Hah, L siapa? kau sudah bangun Ry?", tiba-tiba windy keluar dari kamar mandi dan berlari ke arahku. Windy adalah sahabatku, kita bertemu di hari pertama pendaftaran ulang universitas dan menjadi akrab sampai saat ini. 
       "Hey, kok kamu di sini, win?" Aku bertanya dengan bingung. "Hya, kenapa? nggak senang aku datang ke sini? Hey, apa kau berharap ada orang lain yang menjagamu?" Windy mengernyitkan dahinya sambil tersenyum licik ke arahku. "Iizzzz...", aku menyenggol bahunya.
"Padahal aku panik banget ditelpon rumah sakit kalau kau dirawat di sini. Sampai di sini aku malah diperlakukan seperti ini? Hmm..? hmm...?"
"Ah,,, bukan begitu, kan kamu sekarang harusnya masih di Bali?", sanggahku.
"oh iya, Surprise..", Windy mengulurkan kedua tangannya ke arahku dan menggoyang-goyangkannya. "Hey, hey, surprise apanya?", aku menepis tangannya agar berhenti.
"Aku, surprisenya aku pulang lebih awal. Kau seneng, kan? pasti sepi nggak ada aku seminggu"
"Ih, pede banget, aku malah senang nggak ada yang gangguin"
"Masa' sih??", kelakuan temanku yang satu itu adalah penggoda. Bukan menggoda orang karena genit atau apa, tapi menggoda dengan lelucon dan kata-katanya yang sering banget membuat orang jengkel dan marah. Tapi leluconya itu lebih sering membuat orang tertawa.
"Eh tapi siapa L?"
"Bukan siapa-siapa"
"Hmmm?? Terus, kenapa tadi kamu manggil aku L? pasti, kamu pikir yang di kamar mandi itu L, kan? Hayoo, siapa L? Aku nggak pernah dengar nama itu. Apa seminggu nggak ada aku, kamu diam-diam pacaran?" Hah, sifat rempong windy yang kepo mulai keluar, aku harus sabar karena pertanyaan lainnya akan keluar dari mulutnya bertubi-tubi.
         "So sweeettttt....", itulah ucapan yang keluar dari mulut windy setelah aku ceritakan semuanya. "Terus sekarang dia kemana? Waktu aku datang tidak ada orang di sini", jawabnya sambil melihat sekeliling.
"Apa iya? Entahlah, mungkin dia sudah pulang". Aku bisa memaklumi dia pulang tapi entah mengapa aku agak sedikit kecewa karena dia tidak pamitan.
"Permisi..", seorang petugas rumah sakit memasuki kamarku. "Maaf, apa makanannya sudah habis, saya akan mengambil piringnya", tanya petugas itu.
"Oh, iya maaf, temanku baru bangun dan belum sempat makan. Apa bisa diambil nanti?"
"Iya, tidak masalah. Kalau begitu saya permisi" "Maaf bu", panggilku menghentikan langkah petugas itu.
"Apa dari kemarin malam ibu juga yang mengantarkan makanan ke kamarku?", tanyaku penasaran. "Tidak mba, saya masuk shift pagi. Ada apa?"
"Oh, tidak apa-apa bu. Apa tadi pagi waktu ibu mengantar makanan ibu melihat laki-laki yang menjaga di kamar ini?", tanyaku lagi.
"Tidak mba, saya cuma bertemu dengan mbanya ini", petugas itu melihat ke arah Windy.
"Iya tadi pagi aku yang menerima makanannya", jawab Windy. Aku masih bingung,
"Yasudah bu, terimakasih"
"Sama-sama mba, kalau begitu saya permisi."
"Iya, Bu", jawabku dan Windy kompak.
"Ry, jangan-jangan semalam itu hanya mimpi"
"Ah, aku juga nggak tahu. Itu memang seperti mimpi, tapi sangat nyata. Duh, gimana ya jelasinnya". Aku bingung, apa itu benar-benar mimpi? Kalau itu mimpi, berarti aku bermimpi di dalam mimpi? "Apa ini juga masih mimpi? Ahhrrggggggt", Windy tiba-tiba saja mencubit tanganku.
"Sakit? Berarti ini bukan mimpi, say. Apa waktu kau ketemu sama dia, kau juga mencubit dirimu?" "Tidak"
"Yah, terus gimana kau tahu itu bukan mimpi. Itu pasti mimpi-mimpi. Sudah curiga aku, soalnya ceritamu itu terlalu so sweet"
"Aku tidak merasa sakit, tapi aku bisa merasakan hangat. Ah iya, tangannya hangat", aku mencoba membela diri.
"Kalau itu kan bisa aja bawaan dari mimpimu. Udah ini sambil makan dulu". Windy menyiapkan makananku di atas meja dan mulai menyuapiku. "Habis makan, siap-siap pulang. Nanti kita bisa sekalian nanya ke suster siapa yang bawa kamu ke sini pas bayar administrasi." Aku cuma mengangguk setuju.
"Yang jadi waliku pemilik cafe tempat kejadian itu, sus?", tanyaku masih tidak percaya. 
"Iya mba, katanya dia pemilik cafe itu, makanya dia yang bertanggungjawab"
"Apa ada orang lain yang ke sini juga selain pemiliknya?", tanyaku lagi.
"Kalau itu saya tidak tahu mba, kemarin malam di UGD ramai banget, ada kecelakaan beruntun, jadi saya tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang ada mba"
"Kalau di ruangan, apa ada yang menjagaku?" "Setahu saya tidak ada mba, soalnya kemarin setelah mengurus semua administrasi, bapaknya langsung pulang. Dia cuma memintaku untuk menelpon wali anda dan sekali-kali menengok ke kamar anda"
"Oh, iya Sus. Kalau begitu terima kasih. Maaf sudah mengganggu"
"Iya, sama-sama mba", suster itu tersenyum dan aku langsung menginggalkan meja administrasi.
      "Ry, kayanya kamu beneran mimpi deh. Bisa aja sih, yang jagain kamu pemilik cafe itu, tapi namanya bukan L, eh siapa itu? Louise?"
"Win, ada ya mimpi yang nyata banget. Terus kenapa aku mimpiin dia ya? Apa karena dia yang nolong aku?"
"Bisa jadi, atau mungkin karena kamu suka sama dia" Aku langsung menghentikan langkah ku. Suka? Aku bahkan baru beberapa kali melihatnya. Aku bahkan belum tahu nama aslinya. Kenapa aku bisa suka sama dia? Bahkan kebaikannya semalam ternyata hanyalah mimpi. Aku tak tahu apa-apa tentangnya, yang aku tahu hanyalah nama mimpinya, L.
"Biasanya orang-orang memanggilku, L", kata-katanya dalam mimpi tiba-tiba saja terlintas dipikiranku.
"Eh, kamu ngapain bengong di situ. Ayo pulang", Windy menarikku dan aku mengikutinya tanpa berkomentar apa pun. Saat ini pikiranku sedang melayang jauh. Aku bermimpi. Ini semua benar-benar hanya mimpi. Kenapa dengan semua mimpi ini. Belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini sebelumnya. Aku bahkan tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Apa aku akan kembali ke mimpi itu? Mimpi dimana ada dia, mimpi dimana kami bersama.

***Bersambung....

Salam, L-Ry


Sabtu, 12 Maret 2016

You Changed Me part 2

Loli Cafe
      Sekarang aku sedang duduk di cafe yang sama seperti 2 hari yang lalu. Namun kali ini tidak sedang menunggu seseorang. Aku hanya ingin melepas lelah setelah seharian kuliah. Aku suka cafe ini, aku suka dengan suasana yang ditawarkan. Aku tidak tahu kenapa namanya loli cafe. Apa karena cafe ini kecil? Setahuku istilah loli dipakai di jepang untuk seseorang yang berbadan kecil. Tapi sepertinya pemilik cafe ini bukan orang jepang. Entahlah, kenapa aku juga harus repot-repot memikirkan arti nama cafe ini. Abaikan.
         Cafe ini sepi bukan karena tidak ada pengunjung. Ada beberapa pengunjung di dalam cafe ini. Namun, sepertinya pengunjung cafe ini adalah mereka-mereka yang butuh ketenangan. Semua pengunjung sepertinya datang sendiri tanpa pasangan, hanya ada satu pasangan dari 5 pengunjung yang datang. Aku bisa melihat semua pengunjung karena cafe ini memang kecil. Sudah 30 menit aku duduk di sini, menghabiskan waktu dengan melukis bunga yang ada di beranda depan cafe. Sangat menyenangkan duduk berlama-lama di sini, suasana yang sepi ditemani dengan iringan suara instrumen piano yang menenangkan pikiran. Konsep cafe yang mungil, sederhana, dipenuhi aksesoris dan pernak-pernik yang unik. Ada beberapa kaktus dan succulent yang diletakkan di atas meja dan pojok-pojok ruangan, serta bunga-bunga yang memenuhi taman menghadirkan suasana sejuk dan nyaman.
         Lukisanku selesai, segerombolan aster merah yang basah terkena hujan. Aku meletakkan pensil dan sketchbook-ku kemudian meraih secangkir hot coffe latte di depanku. Sambil meminumnya aku melihat sekeliling. Pengunjung lain juga sibuk dengan urusannya masing-masing. Di pojok ruangan terlihat sepasang kekasih yang sedang mengambil foto selfie. Di belakangnya ada seorang pelajar SMA yang sibuk dengan laptopnya. Tak jauh dari tempatku duduk ada seorang wanita paruh baya yang juga sibuk dengan laptopnya. Aku bisa melihat web yang sedang dibuka wanita itu, itu adalah web online shop. Sepertinya dia sedang bingung memilih barang mana yang akan dibelinya. Selain itu terdapat juga seorang lelaki tua yang sedang membaca surat kabar sambil menikmati secangkir kopi hitam, mungkin ekspresso.
      Jam tanganku baru menunjukkan pukul 07.15, aku masih bisa bersantai di sini lebih lama, pikirku. Malam ini juga sedang hujan, aku melihat air hujan yang samar-samar berjatuhan. Aku jadi teringat sosok lelaki kemarin. Aku ingin melihatnya lagi, itulah salah satu alasan sekarang aku berada di tempat ini. Aku kembali meraih pensil dan skecthbook-ku kemudian melihat sekeliling, mencari apa yang bisa aku lukis. Saat itu seorang gadis SMA memasuki cafe masih dengan seragam sekolahnya. Saat melihatnya perasaanku mengatakan ada yang aneh dengan gadis ini. Entah darimana rasa penasaranku muncul. Aku mulai memperhatikan gadis yang memilih duduk di sampingku, hanya berjarak satu kursi dari tempatku. Saat pelayan datang, gadis ini memesan segelas ice vanilla. Gadis ini terlihat gemetaran, aku pikir karena dia menggigil kedinginan tetapi dia tidak memesan sesuatu yang hangat, malah memesan minuman dingin. Seragamnya sangat basah, aku bisa melihat air yang menetes dari bawah seragamnya membasahi lantai tempatnya duduk, namun kenapa jaket yang dikenakan tidak terlalu basah? pikiranku mulai berimajinasi.
Apa dia baru memakai jaketnya setelah kehujanan?
Ah, dan dia juga tidak membawa tas. Aneh, aku mulai merasakan sesuatu yang ganjil di sini.
    Beberapa menit kemudian pelayan membawakan pesanannya. Aku masih mengamatinya. Wajahnya pucat dan terlihat cemas. Jari-jari tangannya bergetar memegang gelas namun gadis itu malah mengeletuk es batu dari minumannya. Kenapa dengan gadis ini? Rasa penasaranku mulai memuncak.
"Hey. Hey dek", aku mencoba berbicara dengan gadis itu tetapi dia tidak menoleh. Aku mendekat dan memanggilnya lagi sambil menyentuh bahunya. Gadis itu terkejut, dia melihat ke arahku gugup. "Hey, kau tidak papa? Kamu kelihatan kedinginan" "Jangan mendekat", gadis itu sedikit berteriak. Aku bingung. Aku melihat sekeliling dan pengunjung lain sedang melihat ke arah kami. "Ah, tidak papa aku cuma bertanya, nggak ada niat lain". Ah~ Bodohnya aku, kenapa ikut campur masalah orang lain. Sekarang aku yang jadi malu sendiri. Aku akan kembali ke kursiku namun tertahan karena pandangan ku tertuju pada bercak merah pada seragam gadis itu yang ditutupi dengan jaket. "Hey, bajumu, darah. Apa kau terluka?", spontan aku bertanya dan kembali mendekat. "Sudah aku bilang jangan mendekat", gadis itu berteriak lebih kencang dan sekarang sambil menyodorkan sebuah pisau. Kali ini aku yang terkejut, aku tak tahu harus berbuat apa dan hanya berdiri mematung. Wanita yang duduk tak jauh dari tempatku berteriak sambil berlari menjauh dari kami. Aku melihat pengunjung cafe juga terkejut namun belum berani mengambil tindakan. Jarak ku hanya satu meter dari gadis yang menodongkan pisau ke arahku. Aku bisa merasakan badanku mulai dingin dan kakiku bergetar. "Apa kau juga mau mati?", ucap gadis itu membuyarkan pikiranku. Hah, apa? Apa dia serius mengancamku? Aku sangat takut, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, bahkan aku tak tahu apa yang terjadi di sini. Mengingat semenit lalu aku masih memegang pensil dan sketchbook-ku. Aku mencoba untuk tetap tenang, tetap fokus, itulah yang harus aku lakukan dalam situasi seperti ini, pikirku.
       Tiba-tiba seseorang datang entah dari mana, dengan cepat dia menarik tangan gadis itu dan menjatuhkan pisaunya. Gadis itu memberontak namun tak bisa mengelak. "Hey ambil tali atau kain dan telpon polisi", lelaki itu berteriak ke arah pelayan toko. Dalam sekejap dia berhasil meringkus gadis yang menodongkan pisau ke arahku. Aku masih berdiri mematung, melihat tangan dan kaki gadis itu diikat dengan serbet agar tak bisa kabur. Aku melihat bibir gadis itu terus mengumpat tapi aku tak mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku terlalu takut, masih terkejut. Sedetik saja, mungkin aku bisa langsung mati di tempat. Seorang pelayan mendekat dan menanyakan kondisi ku, "Maaf mba, kau tidak apa-apa?". Saat itulah semua energiku melayang seketika, aku langsung terduduk di lantai masih melihat ke arah gadis yang menyodorkan pisau ke arahku tadi. Aku masih tidak percaya apa yang terjadi. Kejadiannya sangat cepat namun juga terasa lama sehingga menguras semua tenagaku. Aku melihat lelaki yang berada di samping gadis itu. Eh, Dia?! Lagi-lagi aku terkejut. Lelaki itu adalah lelaki yang ku lihat dua hari yang lalu. Aku masih tidak percaya. Apa ini yang namanya takdir? Terlintas banyak pertanyaan di benakku, namun sepertinya pikiran dan badanku bekerja berlawanan. Perlahan semuanya menjadi kabur, kepalaku terasa berat, dan semuanya gelap. Apa ini mimpi? Aku sedang bermimpi?
           Aku membuka mata ku dan melihat langit-langit, mengingat apa yang baru ku alami ternyata semua hanya mimpi. Aku menghembuskan nafas lega. Mimpi yang sangat nyata, semua badan ku terasa pegal dan kepala ku masih pusing. "Kau sudah bangun?", Aku kaget tiba-tiba mendengar suara lelaki di kamarku. Aku melihat sekeliling. Apa kamarku berubah? ini bukan kamarku. Aku baru sadar aku tidak berada di kamarku. Hah, aku ada dimana?
"Apa kau bisa bangun? Kata dokter kau hanya shock, untungnya tidak ada yang terluka", suara lelaki itu terdengar lagi namun aku belum bisa menangkap keberadaannya. "Apa kau bisa bangun? Kau harus makan untuk mengisi energi", suaranya semakin terdengar jelas. Aku melihatnya, dia berbicara sambil mendekat ke arahku dengan membawa makanan di atas nampan. Hah?!! Dia lagi?! Lelaki kemarin! Apa aku masih bermimpi?

***Bersambung....

Salam L-Ry

Rabu, 02 Maret 2016

You Changed Me part 1

        Aku Ry, aku bukanlah tipikal orang yang suka memperhatikan keadaan sekitar. Banyak orang yang menganggap ku tidak peka dan tidak respek, tapi aku tidak pernah mengambil pusing ucapan orang lain karena aku tidak peduli. Semua yang ku kerjakan, sesuai dengan rencana yang telah ku buat. Plan A, plan B, plan C, semuanya telah aku pikirkan. Namun kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan.

###

        Dua hari yang lalu.
Waktu itu aku sedang menunggu temanku, Hilda, di sebuah cafe kecil yang tak jauh dari kontrakan ku. Sudah 10 menit aku menunggu dan dia belum juga datang. Di atas meja telah tersaji secangkir float mocca dan cheese cake yang belum tersentuh. Aku bosan menunggu. Sial, handphone ku sudah menunjukkan baterai limit dan aku juga sedang tidak membawa buku saku atau sketch book yang biasanya tak pernah pernah aku tinggalkan. Tak ada yang bisa ku kerjakan untuk mengisi kebosanan ini. Biasanya untuk mengisi waktu luang seperti ini, aku akan membuka akun medsos, menuliskan planning dalam buku saku, atau sekedar menggambar sesuatu dalam sketch book. Semua itu hal-hal sederhana namun cukup menghabiskan banyak waktu.
        Aku mencicipi cheese cake sedikit demi sedikit sambil melihat ke arah bunga-bunga yang basah terkena hujan di luar cafe. Saat itu sedang hujan deras, ketika aku pertama kali melihatnya. Dia, aku bahkan tak tahu siapa namanya. Namun, entah mengapa dia dapat mencuri perhatian ku-seseorang yang tak suka memperhatikan orang. Biasanya ketika melihat orang yang tidak dikenal dan tak sedang berkepentingan, aku akan langsung memalingkan muka ke arah lain. Bukan karena sombong, hanya saja, menurutku tidak sopan memandangi seseorang jika tidak ada hal yang berkepentingan. Lelaki itu turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam cafe. Walaupun hanya sebentar terkena hujan, cukup membuat rambut dan kemejanya basah. Lelaki itu berjalan sambil mengibas-ngibaskan air yang berada di rambut dan pundaknya dengan satu tangan, lalu duduk tepat di meja depanku. Awalnya aku memperhatikan dia hanya karena iseng untuk mengisi kebosanan. Sebenarnya tak ada yang spesial dari lelaki itu, lelaki dengan postur tubuh ideal dan wajah good-looking. Bagi beberapa orang hal itulah yang pertama menarik perhatian, namun karena aku sering bertemu dan berhadapan dengan orang-orang seperti dia, penampilan fisik bukanlah sesuatu yang bisa membuatku excited. Hanya saja ada sesuatu yang menarik dari dirinya.
    Lelaki itu memesan secangkir hot milk coffe, ketika pelayan yang menerima pesanannya meninggalkan meja, lelaki itu langsung mengeluarkan sebuah buku dan pensil dari dalam tasnya. Ternyata itu adalah sebuah sketch book. "Dia mempunyai hobby yang sama denganku", itulah yang terlintas dalam pikiranku. Tanpa berfikir panjang, lelaki itu langsung memainkan pensilnya di atas buku itu. Aku tidak tahu apa yang digambar olehnya, tapi aku suka ekspresi wajahnya saat sedang menggambar. Dia membuat wajah yang serius, seakan-akan pikirannya hanya tertuju pada apa yang sedang digambarnya. Aku memperhatikan gerakan tangannya, jari-jarinya yang panjang sangat cepat memainkan pensil. Sangat Serius, dia bahkan tidak menoleh saat pelayan mengantarkan pesanannya, namun tetap mengucapkan terimakasih. Tidak sampai 10 menit, sepertinya dia sudah menyelesaikan sketsanya. Dia meletakkan pensilnya dan mengangkat bukunya sedikit ke atas. Lagi, aku kembali terpana dengan ekspresi yang dikeluarkan. Lelaki itu tersenyum melihat gambar yang dibuatnya. Wajah seriusnya dalam sekejab menghilang dan tanpa sadar aku ikut tersenyum.
     Dia melihat kearahku, lelaki itu melihatku yang sedang tersenyum memperhatikannya. Selama beberapa detik mata kita bertemu. Aku bisa merasakan waktu berjalan lambat seperti yang terjadi dalam sinetron-sinetron yang sering mama tonton. Aku langsung menarik senyumku dan menundukkan wajah ke bawah. Aku kaget kenapa tiba-tiba dia harus melihat kearahku? Jantungku berdegup sangat kencang, membuatku panik dan salah tingkah. Aku meraih cangkir mocca-ku dan meminumnya dengan cepat. Belum sempat tertelan, aku menyemprotnya keluar karena kaget mendengar sapaan Hilda yang kedatangannya tidak aku sadari. Aku langsung membersihkan tumpahan mocca yang berceceran di meja sambil melirik ke arah lelaki itu. Entah mengapa jantung ini berdegup lebih kencang ketika melihatnya tertawa kecil. Dia tertawa, sepertinya dia tertawa melihat tingkahku ini.
       Hilda juga menertawai tingkahku dengan bingung. "Hey kamu nggak papa kan, Ry?"  "Hah? Nggak papa kok, kaget aja aku. Kamu tiba-tiba muncul sambil ngagetin sih" Aku berbicara tanpa melihat ke arah Hilda sambil terus mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih dan sesekali melirik ke arah lelaki itu. Hilda adalah sahabatku ketika SMP. Kita berpisah ketika kenaikan kelas 3 dikarenakan orangtuanya pindah tugas di luar kota. Beberapa hari yang lalu Hilda kembali untuk mengunjungi neneknya yang sedang sakit. Oleh karena itu hari ini kita bertemu untuk melepas kangen dan bercerita tentang banyak hal yang sudah kita lewati hingga sekarang. Awalnya aku masih memperhatikan lelaki itu dengan sesekali melirik ke arahnya. Sepertinya, lelaki itu kembali serius menggerakkan pensil dan menekuni apa yang dikerjakannya. Aku pun terbawa suasana nostalgia bersama Hilda dan akhirnya melupakan keberadaan lelaki yang duduk di depanku.
       Tiga jam aku menghabiskan waktu bercerita bersama Hilda. Ketika akan beranjak pulang, baru aku kembali teringat dengan sosok lelaki yang duduk di depanku. Aku melihat ke arah meja depanku, meja itu sudah berganti dengan pelanggan lain. Ekspresi lelaki itu tiba-tiba terlintas dipikiranku. Ekspresinya ketika serius dan ketika tersenyum, menurutku itu sangat lucu. Aku seperti melihat dua kepribadian dari dalam dirinya. Aku tidak pernah mengira ini akan menjadi awal dari semua kejadian aneh dalam hidupku. Kejadian hari ini adalah permulaan dari perubahan sifatku. Entah kenapa tanpa aku sadari, aku berubah. Apakah perubahan ini baik untuk ku? Aku selalu memikirkannya. Namun, sekeras apa pun aku mengontrolnya, aku tak bisa menghentikan perubahan ini.
          Semenjak kejadian ini, sedikit demi sedikit, aku berubah.....

***Bersambung...

Salam L-Ry